June 16, 2012

Ke Sri Lanka Makan Nasi Goreng

Ceritanya, saya sedang ada tugas ke Colombo, Sri Lanka, pada akhir Januari 2012. Kebetulan ditunjuk sebagai salah satu delegasi untuk diskusi sebuah group project dengan sesama operating company dalam group Axiata. Disana cuma 3 hari, 2 hari diskusi, 1 harinya keliling Colombo.

Penerbangan dari Jakarta yang tersedia hanya ada malam hari. Waktu itu saya dapet Singapore Airlines, berangkat sekitar jam 20:00, transit di Changi dan sampai di Bandaranaike tengah malam, teng (local time)! Untungnya, saya sudah pesan taksi hotel melalui teman saya yang bekerja di Dialog. Dalam perjalanan ke hotel, taksi dihentikan polisi, dan kena denda karena kecepatannya melebihi 70km/jam — What???!!!

Visa bisa didapat secara online melalui http://www.eta.gov.lk, harganya 20 USD untuk business visa, multiple entry hingga 30 hari. Lebih baik apply secara online dari pada on-arrival, soalnya selisih 5 USD, lumayan buat beli bakso.

Makanan yang terkenal disana adalah: Nasi Goreng. Ya, resep dari Indonesia ini katanya menjadi salah satu yang favorit di Sri Lanka, dan mereka bikin banyak resep turunannya, seperti Nasi Goreng Mongol yang saya makan di kedai Mongolian di Majestic City Mall, harganya sekitar Rp.32.000,- untuk porsi yang gede banget, dikasih sayur, daging kari dan acar. Kedai makanan berlogo halal mudah dijumpai, jadi ngga ada issue tentang makanan. Selama meeting, saya makan nasi kari ikan Sri Lanka, saya tidak tanya apa namanya, yang jelas pedes dan spicy khas makanan India.

Secara umum, Colombo sama seperti kota tua Jakarta. Situasi saat itu sedang aman, jadi tidak perlu ragu jalan-jalan keluar hotel. Tapi, hati-hati dengan kriminal. Selalu waspada, seperti cerita di paragraf berikut.

Sunset Di Galle-Face

Hari kedua meeting, saya berencana untuk pergi melihat sunset dan mengambil beberapa foto di lapangan Galle-Face, sepulang dari kantoor. Galle-Face tidak jauh dari hotel tempat saya menginap. Lapangan Galle-Face terletak di depan hotel megah bernama Taj Samudra.

Baru jalan keluar dari pagar hotel, saya sudah disambut oleh orang berpakaian lusuh, yang beramah tamah dengan saya, saya senyumin aja. Saya diajak ngobrol, saya ladenin tapi sambil jalan, kamera dikalungkan dan dikempit diketiak, dan jam tangan saya hadapkan dalam. Selama ngobrol, saya perhatikan wajah orang itu, dan beberapa kali pertanyaanya tidak nyambung, seperti menanyakan kamera saya, jam saya, yang menurut saya OOT untuk sebuah obrolan dengan orang asing. Saya ngga nyaman ngobrol sama orang ini. Untung di depan saya ada satpam hotel, langkah saya percepat dan benar dugaan saya,  orang tadi tiba-tiba say good bye dan pergi begitu saja.

Belum selesai, begitu melangkahkan kaki di pasir lapangan Galle-Face, saya udah disapa, diajak salaman dan diajak melihat pawai perayaan agama. Laki-laki ini menggunakan nama muslim, ngomong ke saya udah yang kayaknya akrab banget, menyatakan tau tentang Jakarta dan punya anak laki-laki mirip saya — What???!!! OOT banget!. Karena orang ini agak maksa, jadi agak putar otak untuk lepas dari dia. Saya iyakan ajakan dia untuk melihat pawai yang katanya tidak jauh dari Galle-Face, akhirnya saya mengikuti dia. Tapi belum keluar area keramaian Galle-Face, saya bilang bahwa saya tidak ada waktu untuk melihat pawai dan memutuskan untuk kembali melihat sunset saja. Tiba-tiba orang itu merengut, lalu saya tinggal pergi. Saya senyum ke tukang Bajaj yang ngetem dan dia pun tersenyum seolah-olah tau apa yang baru saja terjadi dengan saya. Hehehe…

Senja di Galle-Face terlihat biasa, tidak seindah senja di Kaimana, Papua. Di bibir pantai terlihat banyak orang yang mainan pasir dan air laut, di anjungan terlihat banyak orang foto-foto berlatar sunset, di jalan aspal sepanjang pantai banyak orang jalan, ada yang jogging juga, di pinggirnya banyak yang jualan gorengan seafood. Di lapangan pasir, banyak orang lesehan jualan mainan, ada yang jual layangan, anak-anak berlarian, couple, keluarga, numplek di situ glesotan diatas tikar.

OK, beberapa foto sudah saya ambil, dan rasanya temaram maghrib sudah muncul. Akhirnya saya kembali ke hotel. Selama perjalanan kembali, saya melihat ada pengemis di pedestrian. Suasananya sama seperti Jakarta, yang beda di Colombo banyak Anjing, untungnya ngga rese tu Anjing. Begitu saya sampai ke pagar hotel, saya ketemu orang yang pertama itu lagi — Arrrghhh… ngapain dia ngetem disitu?!

Beli Oleh-Oleh

Besoknya, saya dan dua orang kawan — salah satunya, Malaysian — punya rencana pergi cari oleh-oleh. Karena ngga mungkin gangguin orang Dialog untuk keliling anterin kita, makanya kita pake Bajaj alias Tuk-Tuk. Pagi-pagi langsung check-out dan nitip tas di salah satu kantoor Dialog di Dharmapala Mawatha. Tanya sana-sini, akhirnya memutuskan untuk ke House of Fashion, kenapa? Karena harganya sangat menarik, kalo di Jakarta dapet 1, disini bisa dapet 3, kualitas sama persis! Barang dijamin bagus, jahitan, bordiran memang bagus dan rapi. Semua merk ada. Saya ga jadi pergi cari souvenir ke toko Lakmedura, karena 2 orang tadi sibuk milihin kemeja sama dasi. Tapi saya sempat mampir ke Barefoot, disana banyak souvenir, tapi out-of-budget, mahal. Akhirnya cuma beli pesenan aja yaitu berupa celana komprang khas India dan gelang tali.

Selain souvenir kerajinan, mungkin ada yang mau coba teh Sri Lanka? Variannya banyak banget, ada yang berdasarkan lokasi tumbuhnya, dan campuran ekstrak rasa buah, dll. Saran saya, kalau beli teh ini lebih enak dicampur dengan susu cair, karena rasa teh-nya sepet dan menyengat. Buat saya, orang Indonesia, lebih suka teh dalam negeri, lebih wangi dan rasanya tidak sepet dilidah.

Malamnya, kami pulang dengan naik taksi ke Bandaranaike. Setelah cek-in ada kios-kios souvenir dan setelah dicek, harganya ternyata lebih murah, hehehe... Jadi yang mau ke Sri Lanka, mending beli souvenir di Bandaranaike aja. Tau jam berapa saya take-off? Jam 1:30 (local time), sampai di Jakarta jam 10:00 WIB dengan selamat Alhamdulillah dan mata kriyip-kriyip.

BTW, ngga ada gambarnya nih, karena foto-fotonya ternyata terhapus :)