Ini adalah pengalaman pertama saya bermain di alam dengan sepeda Spez P2 Cr-Mo milik saya. Sebelumnya hanya melihat saja di video, main di Lintas Radar Halim dan B2W. Kali ini akan mencoba trek di Rindu Alam dan Telaga Warna. Dengan pengetahuan seadanya, dan sepeda apa adanya, saya memberanikan diri untuk join mainan lumpur.
Very interesting, full-of-adrenaline, melelahkan dan pastinya PEGAL! seluruh badan. Yaiyalah… frame hardtail + Bomber DJ-3, keras gitu… rasanya sendi-sendi ini pada mau copot. Ada banyak hal yang dipelajari, terutama teknik dan handling. Yang lebih utama lagi adalah dzikir mengingat-Nya sepenuh hati dan pasrah terhadap ketetapannya-Nya (gravitasi).
Hari sabtu 17/12/2011, jam 5:00 saya sudah siap di stasiun Cawang, menunggu kereta ekonomi ke Bogor. Hari itu saya dan Spez akan mencicipi pengalaman pertama turun menyusuri kebun teh di Puncak Pass bareng seorang teman kantoor — Dian Candra.
Setelah kurang lebih 1 jam perjalanan, saya langsung bergegas keluar stasiun dan gowes ke Tugu Kujang — meeting point yang sudah disepakati. Mas Dian sudah menunggu disana, dengan 2 orang rekannya. Setelah ngobrol-ngobrol dan menunggu 2 orang teman lagi, akhirnya kami meluncur ke puncak… pake angkot tentu-nya :-)
Akhirnya kami pergi ber-lima menyewa 2 buah angkot trayek 01A. Negosiasi harga disepakati di angka 90k per-angkot. Semua sepeda, ban-nya di-copot, kecuali punya saya. Newbie soalnya, jadi ngga bawa kunci inggris :p Akhirnya, hanya Spez yang diangkut secara gelondongan dan untungnya masih tetap longgar.
Arus lalu lintas ke arah puncak sudah macet, padahal masih jam 7:00 pagi. Mungkin kondisi lalu lintas sedang tidak seperti biasanya.
Sampai di puncak, saya sarapan nasi Goreng dan minum teh panas… hmmm… aslinya sih biasa aja, tapi perut ini keroncongan, jadi rasanya luar biasa :D Lalu bersiap-siap, BAK sebentar and GO!
Masuk ke area perkebunan teh ini ditebus dengan karcis seharga 10k sudah termasuk sebotol teh Walini. Kami mulai dari jalur yang tertulis "NEW RA EXTENSION" di jalan masuk-nya turun menuju Gunung Mas. Tapi pemanasan dulu, nuntun sepeda nanjak ke atas. Sampai diatas, ambil nafas sebentar and… let the adrenaline goes through the blood vessels!!!
Di jalur Rindu Alam ini, saya nancep di lumpur 2x, ga punya pengalaman sih jadinya udah becek tuh sepatu. Trus sikut kiri beset, gara-gara jadi support badan pas kepeleset lumpur. Di tikungan di turunan berbatu yang bikin terlena untuk ng-drift, lalu gagal dan jatuh terseret — kali ini betis kanan sama pinggul kiri yang jadi korban. Turun meluncur kebawah lagi, lalu pedal sebelah kanan nyangkut di pohon teh yang keras dan lentur dan saya dengan sukses nyusruk kedepan, sekarang giliran betis kiri yang beset. Setelah itu ketemu jalan batu yang panjang yang ujungnya ada di belakang Gunung Mas. Jalan ini biasa digunakan untuk lalu lintas pickup perkebunan teh.
Luka beset udah dimana-mana, dan mata kanan kemasukan lumpur. Ketika itulah saya paham, kenapa mereka semua pake kaca mata, dan pake jersey lengan panjang hehehe… Urusan dengkul aman, soalnya saya pake knee guard.
Keluar dari area Gunung Mas, kami berpisah dengan 2 orang lainnya, karena mereka ada keperluan lain, sedangkan kami lanjut menunggu pickup di pinggir jalan. Waktu itu udah jam 9:00 dan arus one-way kearah Puncak sudah berlaku. Tidak lama, kami naik truk kecil menuju Telaga Warna yang lokasinya tidak jauh dibawah area masuk ke Rindu Alam.
Di TW, kami nanjak dulu sampai ke sebuah rumah di tengah kebun teh. Banyak orang berjalan-jalan di kebun teh, istilahnya "TEA WALK". Agak naik dikit dari situ, ada tikungan nanjak kekanan. Di tikungan itu ada jalur masuk sepeda di sebelah kiri. Kami berhenti sebentar untuk ambil nafas dan foto-foto sebentar.
Lanjut! Feel the adrenaline flow through the blood vessels!
Di trek ini, saya sempet nancep di lumpur setelah terjun dari elevasi yang lumayan dan transfer (lompat) ke trek yang agak sempit, saya sempet ngeper karena disebelah kiri saya adalah lereng perkebunan yang lumayan juga kalo sampe nyusruk ke situ dan hinggap di atas pohon teh. Saya banting ke kanan dan terpelanting dan grip nusuk ke perut… Aaaarrrghh…!!! Alhamdulillah, untungnya cuma ke perut, bukan area lain (baca: ulu hati, yaa...).
Trek NEW TW-3 ini aseli bikin ke-enakan! Turun teruuus, cornering di berem atau wall-ride, bisa lompat-lompat juga, elevasi dari 30-70 kayaknya. Bener-bener bikin terlena deh.
Tapi kalau sampai terlena bisa celaka tuh kayaknya. Itu yang hampir terjadi sama saya. Untungnya saya masih ingat ber-dzikir, mengingat Yang Maha Kuasa. Trek licin, berlumpur, rem udah ditarik sampe mentok, tapi masih banter melaju turun ke bawah. Saya sempat tidak bisa mengontrol kecepatan dan handling sepeda, turun terus kebawah. Tapi kondisi seperti ini memang harus dihadapi dengan tenang dan pasrah.
Konyol-nya lagi saya pake ban indoor, Spez Rhythm Lite jadi ban ga bisa nggigit tanah. Jadinya berasa banget sepeda nglunyur kanan kiri. Saya ngga berani macem-macem, cuma meluncur dan lompatin obstacle aja.
Sampai dibawah, kami istirahat sebentar. Minum Teh Walini tadi. Lalu evaluasi sedikit dari mas Candra perihal trek dan teknik yang harus dikuasai. Kemudian kami melanjutkan perjalanan pulang ke Bogor via Batulayang menyusuri perkampungan sepanjang Mega Mendung.
Di sekitaran Batulayang kayaknya, di tikungan yang penuh dengan kerikil lepas, saya melaju kenceng dan sok-sokan drifting yang menyebabkan ban belakang kehilangan traksi sehingga saya melintir berputar 180 derajat menghadap mas Didit dan turun mundur. Saya bisa melihat ekspresi kaget mas Didit ngelihat saya bak adegan film action. Alhamdulillah saya masih dilindungi-Nya, masih duduk diatas sepeda ketika berhenti, tidak jatuh dan mas Didit nggak nabrak saya. Alhamdulillah… Fiuhhh… Extremely dangerous! Kata mas Candra: "Bukannya ga bisa cepet, tapi harus liat track dan kontrol kecepatannya".
Alhamdulillah, kami pulang ke Bogor lewat Batulayang, Mega Mendung, Gadog dan nembus ke Tajur. Di dekat Tajur, kami berhenti sebentar untuk membersihkan sepeda dan makan Bakso :-)
Perjalanan lanjut, melewati Tajur, Villa Duta, Baranang Siang, Kebun Raya, Taman Topi dan Stasiun.
Sampai di stasiun, saya naik KRL ekonomi, yang berangkat jam 14:00. Alhamdulillah, tidak penuh. Saya istirahat, duduk sepanjang perjalanan mengingat-ingat apa yang baru saja saya pelajari:
- Kontrol kecepatan! Tidak semua harus dilibas dengan kencang.
- Jangan melawan gravitasi, karena pasti jatuh.
- Gunakan safety equipment! Terlihat soksokan gapapa, yang penting ga perih pas mandi :p
- Pake ban pacul ya?!
- Ingat selalu kepada Allah... Karena itulah yang menyelamatkan saya di TW3!
Next?! Lagi ah… Tapi setelah pegel-pegelnya pada ilang ya!
NB:
NB:
- Blog ini ditulis dengan tampang meringis menahan pegel-pegel di leher, bahu, pergelangan, tulang belakang dan pinggu, serta betis. Mungkin Anda menilai saya konyol, tapi percayalah, itu semua dibayar oleh sensasi adrenaline!
- Alhamdulillah adalah kata yang banyak tertulis di tulisan ini, dan memang begitu adanya, karena saya sudah diselamatkan oleh-Nya.
- Foto pribadi.
- Video NURA: http://www.youtube.com/embed/Wh1RwD2wHRg
- Video TW3: http://www.youtube.com/embed/i-egOcBA0Cw
0 comments:
Post a Comment