December 12, 2010

2010 I'm A Husband, 2011 I'm A Father


Athallah Maulana Rasyid

Menjadi ayah tidak pernah saya bayangkan bakal secepat ini. Maret 2010 menikah, belum berakhir tahun berjalan sudah ganti status lagi. Tanggal 01 Desember 2010, saya resmi menjadi ayah. Istri saya melahirkan seorang bayi laki-laki yang langsing, sehat, dan merah kehitaman saat dia menangis.

Minggu (28/12) waktu subuh, istri memberi kabar bahwa dia dalam perjalanan menuju rumah sakit, karena ia melihat ada bercak darah ketika akan sholat subuh dan kontraksi pun sudah dalam interval menit. Dia berpesan agar saya tetap tenang, karena semuanya baik-baik saja. Akhirnya jam 07:30 saya meluncur ke T3 bandara Soetta, beli tiket on-the-spot Mandala CGK-SUB jam 09:50, tetapi saya baru sukses terbang sekitar 5 jam kemudian.


Setelah diobservasi selama 24 jam, senin (29/12) jam 14:00 istri diperbolehkan pulang. Perdarahannya berhenti dan interval kontraksinya kembali dalam hitungan jam, seolah belum waktunya lahir — saya pikir mungkin bayinya capek, tidur dulu. Pesan dari dokter, kalau muncul perdarahan ngga usah panik, diobservasi sendiri dulu, kalau keterusan banyaknya baru ke rumah sakit. Akhirnya sore itu juga saya pamit pulang ke Jakarta naik kereta api Bima — ceritanya ngobati kangen naik kereta ini. Esok harinya, selasa (30/12) 09:30 saya sudah inservice lagi di kantor. Hari itu banyak orang nyalamin saya… wah pasti ada yang nyebar informasi terlalu dini nih…lha wong belum lahiran kok.


Malamnya, saya pulang kantor seperti biasa, jam 21:00 sampai kosan, ngrendem pakaian trus tergeletak begitu saja ditempat tidur. Capek. Ngga lama, jam 00:20 saya bangun dan baca SMS: “Mas, aku perdarahan lagi, kontraksi semakin sering, sekarang ada di rumah sakit”. Wadduu… mana lagi rendam cucian, gimana dhong? Ya sudah, akhirnya nyuci baju dengan mata yang sepet masih kriyip-kriyip sambil berharap semoga saya masih sempat mendampingi istri sebelum ia melahirkan.

Kelar beres-beres semua, jam 8:30 langsung meluncur lagi ke bandara Soetta. Santai. Supir taksi bilang kalau tol DalKot macett, mending lewat bypass Achmad Yani saja. Setelah cek Info-LL di twitter saya mengiyakan. Saya mau naik Mandala lagi, karena ngejar pesawat jam 09:50, eh ndilalah jadwalnya dikosongkan, “…memang biasanya ada mas, tapi sekarang nggak” kata petugas tiket, bah… ada-ada saja. Lalu saya bergeser dari T3 ke T1, dapet tiket Lion air jam 10:35. Tapi akhirnya bisa berangkat jam 10:10 gara-gara saya cepat cek-in dan ditawarin terbang sekarang karena ternyata masih ada kursi kosong untuk jam 10:10. Saya ambil saja. Memang saya dapet tiket agak mahalan dari penawaran calo yang menggiurkan, cuma 400rb. Tapi demi prinsip, saya memilih membayar lebih.

Sodara-sodara, dengan bangga saya kabarkan bahwa pada hari ini Rabu, 01 Desember 2010, saya telah membuat calo tiket keki melihat saya bayar lebih di loket. Maaf ya pak Calo…

Sekitar jam 12:30, saya sampai di RSSI setelah membelah jalan dari bandara Juanda – Pondok Chandra – Rungkut, dibawah gerimis segede-gede jagung. Istri saya sedang berbaring miring menahan sakit. Disampingnya ada ibu saya yang sedang mengusap pinggang belakang istri untuk meredakan sakit karena kontraksi. Bak adegan sinetron, saya datang dan langsung berhambur menemui istri dan… yah gitu deh, hehehe… Ibu saya keluar ruangan dan membiarkan saya mengambil alih tugas menenangkan istri sampai saat operasi tiba.

Operasi adalah jalan keluar paling akhir yang sudah disepakati bersama jika kelahiran normal tak kunjung terjadi. Kondisi sudah bukaan 7, kontraksi juga sudah hebat, monitor detak jantung bayi juga baik. Ditunggu-tunggu kok belum ada tanda-tanda akan tambah bukaan. Menurut bidan, mungkin karena mulut rahim sudah bengkak sehingga kaku dan sulit untuk membuka. Ditambah lagi, kontraksi hebat yang tidak well coordinated, sehingga tidak efektif mendorong bayi keluar rahim, seperti dijelaskan oleh Prof. dr. Samsulhadi, SpOG(K). Setelah ditunggu, progress bukaan tak kunjung bertambah, apalagi ketuban sudah pecah sejak subuh — berarti sudah ± 8 jam — akhirnya istri masuk ruang operasi pada jam 12:50, sementara saya ISHOMA dulu dibawah. Ya sudahlah, toh niat dan usaha kami agar bisa lahir normal, sudah maksimal.

Anak kecil

Selesai makan siang di kafeteria rumah sakit, jam 13:44 saya dapat kabar bahwa anak kecil sudah dilahirkan. Langsung saya bergegas ke ruang pulih sadar. Saya dapati bayi kecil ini sedang melihat-lihat sekelilingnya, mungkin sedang adaptasi lingkungan yang terang benderang, beda dengan suasana rahim ibunya. Lalu saya gendong dan menyanyikan adzan di telinga kanan & iqomah di telinga kirinya. Saya nyanyikan yang paling merdu untuk laki-laki kecil ini. Mukanya yang tampak polos dipenuhi air ketuban yang sudah kering menguning dengan sedikit bercak darah ibunya di dekat pelipis kanannya. Matanya terus melirik kanan kiri sambil sesekali melihat ke arahku yang sedang mengadzaninya.

Perhatian saya tertuju pada bibirnya, manyun banget kaya Bart Simpson — hehehe…


Anak laki-laki ini lahir dengan berat badan 2.465 gram, panjang 49 cm. Bayi luangsing — langsing banget hehehe… Dulu, beratnya memang sengaja dijaga supaya tidak terlalu besar, biar gampang dilahirkan secara normal. Tapi ternyata perkiraan berat badan bayi antara alat USG dan kenyataan meleset jauh sekali. Ya sudah pikirku, yang penting sehat. Setiap saat saya intip anak kecil di ruang bayi. Untung saja posisinya pas di samping jendela jadi gampang melihat dia sedang apa dan diapakan. Saya terharu, dia hanya tidur, sesekali memanyunkan bibirnya, nangis sebentar, dan minum air Glucose sementara ibunya masih belum bisa memberi ASI.

Meconial

Selain pro ASI, ibu Saraswati juga telaten dan suka bila diberi banyak pertanyaan :)
Senang rasanya semua berjalan dengan lancar. Anak kecil lahir dengan air ketuban meconial yang berwarna keruh. Menurut dokter, dia sudah BAB di dalam, sehingga air ketubannya berwarna hijau keruh. Jika sampai tertelan bisa menyebabkan infeksi — dll, saya kurang tau detilnya. Tetapi alhamdulillah setelah cek darah di lab. oleh paediatrician-nya — dr. Saraswati Boerhan, SpA. — dinyatakan OK, aman, sambil mengacungkan 2 jempol kearah saya. Bayi kecil tidak langsung diberi anti-biotik walaupun jelas meconial.

Setelah saya berbincang sebentar dengan ibu Saraswati, malam itu niatnya si anak mau ditaruh di dada bundanya untuk inisiasi dini, tetapi melihat bundanya masih wassalam — ngantuk berat — akhirnya tidak jadi dilakukan. Iyalah, capek, 2 hari gak tidur :) Saya lihat sejak siang habis operasi sampai dini hari posisi tidurnya belum berubah :)

Alhamdulillah. Keesokan harinya, Kamis (02/12), bayi sudah merasakan air susu ibunya, walaupun masih sedikit tapi cukup. Semakin disusukan ke bayi, volume ASI terus menyesuaikan, subhanallah, sampai membanjiri baju ibunya. Karena produksi semakin banyak, maka setiap anak kecil nangis langsung disusui dulu — P2 pada bayi menangis :) — selain itu supaya suply & demand seimbang — xixixi… Semoga terus seperti ini hingga 2 tahun lamanya. Aaaaaamiiiiiin…

Anugerah dari Allah

Kembali ke paragraf pertama, ternyata cepat sekali saya menjadi Ayah. Mungkin ini berarti kami memang dipercaya untuk mendapat “titipan”. Saya sangat bersyukur, apalagi mengetahui teman sekamar istri di rumah sakit sedang dirawat supaya bisa punya anak, setelah menikah 2 tahun. That's why, he is athallah, a gift from almighty God.

Nama anak kecil adalah Athallah Maulana Rasyid. Penggalan nama kedua, Maulana, berarti rendah hati. Sedangkan penggalan terakhir, Rasyid, bisa berarti pintar; cendekia yang berasal dari asmaul husna Ar-Rasyid, atau berarti orang yang berjalan di jalan yang lurus (well guided).

Anak ini adalah anugerah dari Allah yang rendah hati dan pintar. Semoga kami diberi petunjuk dalam menjaga anak ini.

Aaammmiiinnn... ya Rabb...

12 comments:

  1. MasyaAllah... alhamdulillah smuanya baik2 saja..
    Barakallahu laka

    Makasih sharingnya mas Boy :D, eh, dah bukan "mas" lg ding, Pak Boy, Abu Athallah :)

    ReplyDelete
  2. selamat ya mas ardhi... semoga si kecil jadi anak yang sholeh.
    waahhh udah jadi ayah sekarang. :)

    ReplyDelete
  3. selamat Gan...
    semoga Maulana sehat selalu
    semoga ASI lancar jaya sampe 2 thn
    semoga Agan n istri bisa jd orangtua shalih agar bisa punya anak shalih juga...
    amiiiinnn

    selamat menikmati hari indah bersama keluarga baru... :)

    ReplyDelete
  4. selamat kak ardhy..jadi terharu baca tulisanmu..aku jadi ingat waktu istriku mau lahiran..minggu malam balik ke semarang..senin siang balik ke surabaya lagi, karena udah waktunya..
    semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak anak kita..
    amiinn

    ReplyDelete
  5. selamat ardhy
    Turut mengamini doa rekan2 semua

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah, Selamat ya Cak ...
    Semoga jadi anak yang sholeh ...amin

    Komen judule ae ...
    "2010 I'm A Husband, 2011 I'm A Father"
    2011 I'm A Father ---> Bukannnya sekarang masih 2010, dan kamu sudah jadi Bapak ?? :)..

    ReplyDelete
  7. @Kholis -- Yaopo kabare rek? Tak cek sik following blog ane ternyata :)
    @Fritha -- Amiiiin… terima kasih. Iya nih, ayah-bunda-nya harus semakin sholih… Insya Allah pasti bisa :)
    @Ardha -- Wah, ceritone podo kiy berarti :)
    @Nuryanto -- Suwun, cak Nur…
    @Kapten -- Suwun… Iya, memang sekarang masih 2010, cuma mantes-mantese kiy 2011 — hehehe…

    ReplyDelete
  8. Hmm. One thing which touched me, I saw this guy taught me at high school, I saw him did the next phase, worked, proposed his partner of life, and now, being a father.
    I'm proud of u, PakLemon!
    =)

    ReplyDelete
  9. Hehehe… I can't wait what is the next check-point waiting ahead. Thank You, Von… =)

    ReplyDelete
  10. well said, buddy ... piss.

    ReplyDelete